Home » KETIKA HANYA KEBURUKAN YANG TERLIHAT

KETIKA HANYA KEBURUKAN YANG TERLIHAT

Posted by Rully Mujahid on Nov 09, 2014

Dikisahkan bahwa suatu malam Sultan Murod Ar-Rabi` mengalami kegundahan yang sangat besar, dan dia tidak mengetahui sebabnya.
Kegundahan hatinya ini semakin lama semakin mengganggunya, maka Sang Sultan memanggil Kepala Penjaga dan memberitahukan tentang keadaannya saat ini, dan memang merupakan kebiasaan Sultan di malam hari bahwa dia sering memeriksa keadaan masyarakat atau rakyatnya secara sembunyi-sembunyi. Maka Sultan berkata kepada Kepala Penjaga : “Mari kita keluar sekarang saja, jalan-jalan berada di tengah-tengah rakyatku untuk melihat, memeriksa dan memantau keadaan mereka!”.

Tak lama setelah itu, mereka pun berjalan hingga sampailah di sebuah desa hampir dekat dengan perbatasan, dan Sultan melihat tubuh seorang pria yang tergeletak di atas tanah.
Sultan menggerak-gerakkan dan menggoyang-goyangkannya untuk memeriksa tubuh pria itu dan ternyata pria tersebut telah tewas.
Namun anehnya orang-orang yang melintasi dan berlalu lalang di sekitarnya tidak memperdulikannya.
Maka Sultan pun memanggil mereka, tapi mereka tidak mengetahui bahwa orang yang memanggil mereka adalah Sang Sultan,
Sultan memanggi : “Tolong semua kemari, bantu saya!…”
Mereka berseru : “Ada apa?”
Sultan bertanya : “Kenapa pria ini tewas dan tidak seorangpun yang membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?”
Mereka berujar : “Ini orang zindiq, suka minum khomar, pezina!”
Sultan menimpali : “…Namun bukankah dia juga dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wassalam? Ayo kita bawa dia ke rumah keluarganya…”.
Maka akhirnya mereka pun membawa tubuh pria tersebut ke rumahnya.

Ketika sampai di rumah pria tersebut, istrinya pun melihat jasad suaminya dan langsung menangis.
Dan seketika itu juga orang-orang yang mengantar pun mulai beranjak pergi, kecuali Sang Sultan dan Kepala Penjaga yang tetap berada disana dalam keheranan dan keingintahuannya.
Di tengah tangisannya, wanita itu belum menyadari orang yang tinggal itu adalah Sultan, dan dia berseru kepada Sultan : “Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah!”.
Maka makin terheranlah Sultan Murod Ar-Robi`dengan ucapan wanita tersebut, dan berkata : “Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayit ini, hingga mereka pun enggan mengurusi mayatnya?”
Dalam hatinya Sultan merasakan kebingungan dan tanda tanya besar di pikirannya dengan ucapan wanita istri si mayit tersebut, bagaimana mungkin seorang zindiq ditolong oleh wali Allah?.

Wanita itu pun mulai menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya semasa hidupnya:
“Aku sudah duga hal itu, Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual arak atau khomar lantas membeli beberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar itu ke toilet, dan suami saya selalu berkata : Semoga aku bisa meringankan keburukan arak atau khomar ini dari kaum muslimin…”, lanjutnya : “…Suamiku juga selalu pergi ke para zaniah atau pelacur di beberapa malam dan memberinya uang, dan suamiku berkata kepada pelacur tersebut : malam ini kau ku bayar dan jangan kau buka pintu rumahmu (utk melacur) hingga pagi, Kemudian suamiku kembali ke rumah dan selalu berujar : Alhamdulillah, semoga dengan itu aku bisa meringankan keburukannya pelacuran tersebut dari pemuda-pemuda muslim malam ini!”

sambil terisak dia melanjutkan ceritanya : “…Namun sementara orang-orang hanya menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar, dan masuk ke rumah pelacur, dan lantas mereka membicarakan suamiku dengan keburukan-keburukan yang mereka lihat tersebut”.

Dengan terbata-bata wanita itu melanjutkan : “Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : Sungguh jika seandainya engkau mati, maka tidak akan ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu karena apa yang mereka duga dan lihat dari apa yang kamu lakukan…, Suamiku pun hanya tersenyum dan menjawab : Jangan khawatir Sayangku… Sultan atau Pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya…”.

Setelah mendengar cerita wanita tersebut, Sultan pun tercekat dan menangis, lantas berkata : “Suamimu benar, Demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi`, dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya!”.

Dan esoknya, diantara yang menyaksikan dan mengurus jenazah pria tersebut adalah Sultan Murod Ar-Robi`, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota tersebut ikut serta menyolatkan dan menguburkannya.

Maha Suci Allah, kita hanya bisa menilai orang dengan hanya melihat dari penampilan dan kulit luarnya dan kita pula hanya mendengar omongan orang.
Maka sendainya jika kita mampu bijak, kita akan memandang dan menilai orang dari kebersihan hatinya,
Maka niscaya lisan kita akan kelu membisu dari menceritakan keburukan.
Maka Bertakwalah Pada Allah Ta’ala.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Captcha Reload

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers: