Home » KENEGATIFAN DALAM MEMBANDINGKAN DIRI

KENEGATIFAN DALAM MEMBANDINGKAN DIRI

Posted by Rully Mujahid on Apr 13, 2017

Alkisah seekor burung Gagak yang tinggal di tebing-tebing di atas sebuah hutan merasa sangat puas dengan hidupnya, akan tetapi pada suatu hari dia melihat seekor Angsa di sebuah danau dekat ia biasa terbang melintas setiap paginya, dan Angsa ini sangat putih bersih dan indah dipandang. Lalu dia berpikir bahwa Angsa ini pasti burung yang paling bahagia di dunia.

Kemudian burung Gagak ini menghampiri Angsa tersebut, lalu disampaikan pikirannya ini pada si Angsa, dan si Angsa menjawab “Dulu aku juga berpikir bahwa akulah burung yang paling bahagia di dunia ini, sampai kemudian aku bertemu dengan burung Betet, yang mempunyai bulu dua warna, cerah dan sangat indah”. Mendengar jawaban dari Angsa, burung Gagak berpikir kembali, sekarang ia berpikir bahwa burung Betet adalah burung yang paling bahagia sedunia.

Lalu burung Gagak mencari burung Betet, setelah bertemu disampaikan pikirannya kepada burung Betet, dan si Betet menjelaskan “Sebelumnya saya hidup dengan sangat bahagia sampai akhirnya saya melihat burung Merak. Saya hanya punya bulu dengan 2 warna, tapi Merak mempunyai bulu yang warna warni, cerah dan lebih indah paduan warnanya”. Mendengar penjelasan itu burung Gagak akhirnya berpikir kembali, bahwa yang paling bahagia sedunia pastilahburung Merak tersebut.

Dengan penuh semangat dicarilah burung Merak, burung Gagak menemui Merak lalu berkata “Merak, kamu sangat cantik,bulumu berwarna-warni dengan paduan warna yang indah dan cerah, setiap hari ribuan orang datang ingin melihatmu. Beda dengan ketika melihatku, mereka mengusirku. Saya rasa benar kamu adalah Burung yg paling bahagia sedunia..”.

Lalu burung Merak menjawab “Saya dulu juga berpikir bahwa saya burung yang paling cantik dan bahagia di bumi ini. Justru karena kecantikanku ini saya jadi dikurung di kebun binatang ini,
Saya sudah perhatikan dengan seksama, dan saya menyadari dari semua jenis burung yang ada dis sini bahwa hanya Burung Gagak yang tidak dimasukkan kedalam sangkar. Sehingga selalu saya berpikir bahwa kalau saja saya jadi burung Gagak, saya bisa bahagia dan bebas pergi kemanapun”.

Cerita di atas dapat diambil pelajaran dalam kehidupan kita, hal tersebut adalah merupakan kejadian sehari-hari kita, dimana kita selalu membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, ingin menjadi seperti mereka atau memiliki yang orang lain punya. Membandingkan diri sendri dengan orang lain bukannya tidak boleh, malah diperlukan, jika hal yang dibandingkan tersebut adalah untuk menaikkan kompetensi diri, mengembangkan sumber daya, memperbaiki diri dan melakukan perubahan menjadi semakin lebih hebat. Tapi sayangnya, kita lebih mudah membandingkan diri untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dan bisa menimbulkan kenegatifan, biasanya berhubungan dengan materi kekayaan dan kedudukan, berakibat pada tidak menyadari dan menghargai apa yang telah dimiliki dan yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa, dan akhirnya menjadikan kita tidak bersyukur, sedih dan kecewa dengan apa yang tidak kita miliki.

Ketika penghargaan terhadap diri itu tidak ada, yang menimbulkan ketidakpuasan yang negative terhadap diri, dan akhirnya menjadikan orang yang tidak bersyukur, ini semua membawa kepada lingkaran yang tidak bahagia dalam kehidupannya, karena selalu tertekan, menyesali yang tidak dipunyainya.

Bahagia itu sederhana, belajar bahagia adalah dengan menyadari dan menghargai apa yang telah dimiliki, bukan menyesali yang belum atau tidak dipunyai. Selalu akan ada orang yang punya lebih banyak atau lebih sedikit dari kita. Intinya adalah selalu bersyukur, karena dengan selalu bersyukur dalam keadaan banyak atau sedikit, akan merasakan kebahagiaan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Captcha Reload

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers: