Home » KATA-KATA BIASA YANG MENJADI BERBAHAYA

KATA-KATA BIASA YANG MENJADI BERBAHAYA

Posted by Rully Mujahid on Jan 25, 2019

Dalam kehidupan sehari-hari Anda pasti sering berbicara dengan teman atau siapapun teman bicara Anda, dari pembicaraan dengan topik yang sederhana dan santai sampai dengan yang serius dan menegangkan. Kadang sambil berbincang-bincang kita sering berbasa-basi menanyakan pekerjaan, keluarga, karir dan lainnya sehingga pembicaraan semakin mengalir. Pertanyaan dan pernyataan sederhana bisa membuat pembicaraan semakin seru dan mengasyikkan atau bisa juga membuat suasana jadi kaku, bahkan tidak mengenakkan. Penyebabnya adalah pertanyaan sederhana yang dimaknai sederhana sesuai persepsi Anda sendiri, tanpa memikirkan dan merasakan kondisi dan situasi teman bicara.

  • Seorang teman bertanya : ‘Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu ?”.
    Ia menjawab : “1,5 juta rupiah”.
    “Cuma 1,5 juta rupiah? sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?”.

Sejak saat itu temanmu jadi membenci pekerjaannya, lalu dia meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak dan mem-PHK nya. Kini temanmu malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

  • Saat arisan seorang ibu bertanya : “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ? bukankah anak-anak mu banyak ?”.

Sejak saat itu, rumah yang tadinya terasa lapang mulai dirasakan sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang ketika mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.

  • Saudara laki-lakinya bertanya saat kunjungan seminggu setelah adik perempuannya melahirkan : “Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan ?”, “tidak ada” jawab adiknya pendek.
    Saudara laki-lakinya berkata lagi : “Masa sih, apa engkau tidak berharga disisinya? aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa”.
    Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah, keduanya lalu terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, antara suami istri ini terjadi perceraian.

Dari mana sumber masalahnya? Dari kalimat sederhana yang telah diucapkan saudara laki-laki kepada adik perempuannya tersebut.

  • Seseorang bertanya pada kakek tua itu : “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?” Si kakek menjawab : “Sebulan sekali”.
    Yang bertanya menimpali : “Wah keterlaluan sekali anak-anakmu itu. Diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering”.

Sejak saat itu, hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.

Pertanyaan dan pernyataan sederhana tersebut, yang mungkin buat
Anda adalah suatu hal yang biasa, bisa jadi buat orang lain adalah hal penting dan dapat mengubah kehidupannya, baik dari sisi positif maupun negatif.

Berbahayanya adalah ketika teman bicara Anda memaknai pertanyaan dan pernyataan dari persepsi sederhana Anda dengan makna yang negatif dalam pikiran dia, ditambah lagi jika dia memiliki luka batin atau trauma sebelumnya, sehingga menjadi akumulasi dari penderitaan yang mungkin selama ini bisa dia redam. Pikiran negatif akan mempengaruhi perasaan untuk menjadi negatif, juga membuat perkataan terhadap diri (self talk) maupun kepada orang lain pun jadi negatif, dan akhirnya perilaku pun
menjadi negatif.

Menjaga diri untuk tidak mencampuri kehidupan orang lain, dan mengecilkan dunia mereka, menghindari menyamakan kondisi dia saat ini dengan Anda tanpa mendengarkan cerita lebih detailnya. Tanpa Anda sadari, dengan cara ini menjadi perusak kehidupan orang lain. Bisa jadi Anda mengaktifkan atau bahkan memicu meledaknya sebuah bom yang menghancurkan hidup orang lain, secara langsung maupun tidak langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Captcha Reload

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers: